sebagaimana dalam kisah yang masyhur, dia berdiri di atas mimbar di
hadapan banyak manusia lalu melepas bajunya dan berkata, “Aku
bersaksi kepada Allah, kemudian bersaksi kepada kalian bahwasanya saya
melepas paham mu’tazilah dari diriku, sebagaimana saya melepas bajuku
ini.” Ini juga merupakan tanda kejujuran kepada Allah, kejujuran kepada
manusia, dan kejujuran kepada diri sendiri dalam menaati Allah.
Dalam meninggalkan paham mu’tazilah
atau setelah meninggalkan paham mu’tazilah, imam Abul Hasan Al
Asy’ari belum terlepas dari sisa-sisa yang masih melekat pada dirinya.
Setelah itu, di dalam kitabnya al Ibanah fi Ushulid Diyanah, di dalam
kitabnya Maqalat dan di dalam kitabnya Risalah ila Ahli Tsaghar, di dalam ketiga kitab ini, nampak keadaannya
secara jelas dan terang. Bahkan dia menjelaskan secara terang, tanpa
ada kesamaran, bahwa dia di atas aqidah salafiyah.
Memang banyak orang dari kalangan Asy’ariyah yang menisbatkan
kepada Abul Hasan. Ya, mereka itu tidak berada pada jalan
mu’tazilahnya yang pertama, tetapi juga tidak pada jalan salafiyahnya
yang terakhir. Mereka berada pada tingkatan kedua, bukan dari
mu’tazilah dan bukan dari Sunnah. Tetapi jalan yang bercampur di
dalamnya antara amal shalih dan amal buruk. Padahal tidak boleh
menisbatkan kepada Abul Hasan dalam hal yang sudah ditinggalkannya.
Mereka itu menyelisihi Abul Hasan dan menyelisihi aqidah salaf yang dia
telah menyatakan untuk mengikuti dan tetap di atas aqidah tersebut.