Kamis, 06 Juli 2023

Ta'asshub

Benar sekali pernyataan ustadz-ustadz ketika itu, bahwa mereka yang hari ini mengkampenyekan taqlid dua ustadz lokal yang senior, mereka jugalah yang berisik mengecam taqlid kepada para imam madzhab. Lihatlah ta'asshub mereka yang menjijikkan kepada dua ustadz mereka (padahal ustadz senior banyak, kenapa mereka batasi hanya dua?). Semua apa kata ustadz mereka adalah kebenaran, yang disanggah oleh ustadz mereka adalah kebatilan. 

Dungu sekali, jika ingin taqlid...ya mending taqlid para imam. Semua para imam sampai hari kiamat tidak akan pernah ditandingi oleh ustadz mereka walau jumlah ustadz mereka ditambah sejuta kali lipat sekalipun, walau mereka ghuluw menyebut ustadz mereka "asy-syaikh al-muhaddits" (siapa ulama yang mengakui bahwa ustadz mereka adalah muhaddits ?) Apakah ustadzmu ridha disebut sebagai "muhaddits" wahai kaum ghuluw ?

Mereka mengatakan bahwa ulama bukan dalil, lah jika ulama bukan dalil apalagi ustadz mereka ?! Mereka bahkan tanpa malu mengatakan bahwa makna hadits "keberkahan bersama akabirikum" yang mereka maksud ialah keberkahan bersama ustadz kibar, bersama ustadz sepuh (?) Duhai sepuhiyyun, juhala !

Ulama kibar kita masih banyak yang hidup semisal para ulama lajnah, namun kita tidak ta'asshub terhadap mereka. Karena tidak ada ta'asshub dalam Islam, apalagi ke ustadz lokal !

Dan ternyata para hizbiyyun muta'shhibun ini rata-rata adalah saudara seagama ade armando (armando di udzur, kaum muslimin di tahdzir). Rekan-rekan yang telah Allah karuniakan hidayah harus menyanggah dan mentahdzir mereka, menjelaskan kebusukan manhaj mereka. Jangan ada sedikitpun kekhawatiran apalagi ketakutan terhadap para hizbiyyun berkedok sunnah tersebut. Bantah mereka dan bongkar terus kerusakan mereka !

Oleh : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Hanifah Jandriadi Yasin حفظه الله
Tanggal : 4 April 2022
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1453742621746378&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz

Madzhab

Dari Status ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin;
 
Bagi saya bermadzhab hanya untuk:

1. Memudahkan untuk beribadah

2. Menghindari diri dari menjadi Mujtahid dadakan dengan mentarjih permasalahan yang telah ditarjih oleh para imam mujtahidin

3. Menyadarkan diri bahwa diri ini hanyalah muqallid bukan siapa-siapa, sehingga Amaliah kita diatas dalil dengan pemahaman para ulama mujtahidin.

4. Menyelaraskan fiqih ibadah sehari-hari dengan masyarakat setempat pada perkara ijtihadiyyah sehingga masyarakat dapat menerima. Cukuplah casing yang dianggap aneh, jangan dianggap asing juga tata cara ibadah kita di mata masyarakat.

5. Memudahkan sampainya dakwah Aqidah kepada masyarakat. Para ulama dahulu semisal Syaikhul Islam Ibnu taimiyyah & syaikhul Islam Muhammad Ibn Abdilwahhab rahimahumallah dll tidaklah berselisih dengan masyarakat sekitar pada permasalahan fiqih, karena fiqih mereka luwes dan melebur dengan masyarakat sekitar ketika itu. Penentangan yang ada ialah pada permasalahan inti dakwah yaitu permasalahan Aqidah. Bagaimana masyarakat mau memahami kesyirikan, kufurnya sekulerisme, liberalisme, dan sesatnya paham-paham yang menyimpang jika sudah terjadi perselisihan antara sang dai vs mad'u (masyarakat) tentang qunut Subuh, jahr/sirr basmalah, lafazh sayyidina dll ?

6. Mengikuti arahan para ulama dakwah agar kita lebih sering menyampaikan nama-nama ulama yang dikenal masyarakat (misal ulama besar madzhab yang mereka anut) daripada nama ulama-ulama yang asing ditelinga mereka atau sudah mendapat stempel sebagai wahabi. Nasihat ini sering disampaikan oleh Asy-Syaikh Robi' bin Hadi di majelis Tafsir selepas 'Ashar di Maktabah lantai dua rumah beliau (ketika masih di Makkah)

7. Melatih diri menjadi sosok yang tidak mudah menghukumi sesat amaliah orang lain yang ternyata Amaliah mereka bersandar kepada dalil yang dipahami oleh para imam mujtahidin, seandainya mereka keliru sekalipun maka hal ini tidaklah membuat mereka tercela karena masuk kategori khilafiyah mu'tabar. Kecuali jika Amaliah mereka yang diselisihi tidak termasuk kedalam ranah khilafiyah yang mu'tabar.

8. Mengikuti arahan para ulama semisal Ibnu Rajab rahimahullah agar kita beramal sesuai dengan dalil yang dipahami oleh para imam madzhab.

Tambahan dari ust. Wira Bachrun :

9. demikian juga yg dinasihatkan oleh ulama kita sekarang seperti syaikh Al Fauzan, jadi kita juga ngikut ulama kibar.

10. selain itu dgn belajar madzhab ahlul bilad, kita bisa membedakan mana yg pendapat madzhab, mana yg produk nusantara dan menjelaskannya kepada ummat

Kita tidak merasa berat tatkala kita mendapati kaum muslimin bermadzhab atau tidak bermadzhab, namun kita akan terasa sakit dan sangat berat tatkala kaum muslimin tidak memahami hakikat kesyirikan, pembatal-pembatal keislaman, kufurnya sekulerisme dan Liberalisme yang sekarang sudah berseragam aliran Nusantara.

Engkau yang masih menganggap masalah bermadzhab atau tidak bermadzhab prioritas dakwah dan pembahasan diskusi, musuh sudah masuk ke barisan kita. Musuh tidak lagi berada di seberang, namun sudah masuk ke barisan kita. Tuturan kaidah-kaidah dan segala macam teori hanya untuk membahas bermadzhab atau tidak bermadzhab bukanlah prioritas utama dan pertama....lihatlah kaum zindik dan kafirin asli terus bertubi-tubi mengancam kita.

بعض رؤوس مرجئة العصر ومشاهير دعاتهم

بعض رؤوس مرجئة العصر ومشاهير دعاتهم:

• محمد ناصر الألباني
• ربيع هادي المدخلي
• عبيد الجابري 
• علي الحلبي
• مراد شكري
• مشهور آل سلمان
• أسامة القوصي
• ياسر برهامي
• عبدالمالك رمضاني
• عبدالله البخاري
• حسن عبدالوهاب البنا
• محمد عبدالوهاب البنا
• أحمد فريد
• خالد العنبري
• سلطان العميري
• عبدالله الخليفي 
• عبدالعزيز الريس 
• طلعت زهران
• أحمد عمر بازمول
• إبراهيم الرحيلي
• أبو إسحاق الحويني
• محمد حسان
• محمد سعيد رسلان
• مصطفى العدوي
• خالد عبدالرحمن 
• محمد هادي المدخلي
• سيد سعد الدين غباشي
• وحيد عبدالسلام بالي
• محمود الرضواني
• سلمان العودة 
• عائض القرني
• خالد عثمان 
• هشام البيلي
• محمد رمزان الهاجري 
• أحمد صالح الزهراني
• أحمد يحيى الزهراني 
• خالد العنبري
• علي الوصيفي
• عبدالمجيد جمعة 
• أزهر سنيقرة
• مجدي حفالة
• رائد آل طاهر
• عبداللطيف الكردي 
• أبو منار العلمي
• عبدالله مهاوش
• سعد النايف
• موفق أبو حمزة الجبوري
• أسامة بن عطايا
• مصطفى عبدالقادر 
• مزمل فقيري
• أبو بكر آداب
• نزار هاشم
• عبدالحي يوسف
• عبدالله الظفيري 
• عادل السيد
• خالد الظفيري
• محمد إسماعيل المقدم
• مجدي عرفات
• عماد رفعت
• عرفات المحمدي
• أسامة العمري
• علي يحيى الحدادي
• عادل الشوربجي
• محمد عمر بازمول
• سليمان الرحيلي
• أبو خديجة البريطاني
• حمد عيسى بو دويرة
• ماهر ظافر القحطاني 
• عبدالله القصير
• عايد الشمري
• محمد العنجري 
• محمد عبدالوهاب العقيل 
• أحمد السبيعي
• محمد غيث 
• عادل منصور
• علي عبدالعزيز موسى
• محمد الإمام
• عبدالواحد المدخلي
• فواز المدخلي
• محمد بن ربيع المدخلي
• عمر بن ربيع المدخلي 
• سليم الهلالي
• رزيق القرشي 
• عبدالرحمن العميسان
• صالح البكري
• إبراهيم المحيميد
• سالم الطويل
• أبو عباد الشافعي
• أبو عاصم السمان
• سمير القاهري

بقلم : الشيخ الأستاذ الفاضل عبد اللطيف الراوي  
مصدر : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10159655370074510&id=532694509&mibextid=Nif5oz

Selasa, 04 Juli 2023

Channel Telegram

Silahkan masuk ke channel Telegram ini yang isinya bukan ajaran Murji'ah ,Khowarij,Syi'ah,Qadariyyah, Jabariyyah, dan kesesesatan lainnya , إن شاء الله : 

https://t.me/Manhaj_Muwahhid


Demokrasi itu thoghut


Demokrasi itu thoghut 

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i juga mengatakan : 
الديمقراطية طاغوتية
"Demokrasi adalah Thoghut!."
[Lihat "Ghoratul Asyrithoh" (1/354)].

Dicuplik dan diringkas dari kitab: "I'lamul Ajyal bi kalamil Imam Al-Wadi'i fiel Firoqi wal kutubi war Rijal"

 وَٱجْتَنِبُوا۟ الطاغوت
"dan jauhilah thaghut" 
(Quran Surah An-Nahl ayah 36)


Syirik Dustur dan Syirik Kubjur

Hanya berani mengecam kekufuran syirik akbar yang dibawah, bungkam terhadap kesyirikan akbar yang di atas. 
Demi mashlahat katamu. Ia mashlahat pribadi kamu, bukan mashlahat umat. Padahal kekufuran (bukan sekedar dosa besar) yang di atas jauh lebih menjijikkan daripada yang di bawah, yang senantiasa engkau sanggah dan kecam. 

Sikap aimmah dakwah sangat jelas dan tegas. Jangan bawa abu-abu dalam masalah ini. Syirik qubur dan dustur sama-sama harus dijelaskan kepada umat

Oleh : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Hanifah Jandriadi Yasin
Tanggal : 15 Maret 2023
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1700640533723251&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz

Kumpulan tulisan Ustadz Abu Musa Isa Islami Al-Mizzy • 3

Kesalahan Fatal

1. Menilai bahwa jenis kekuasaan hanya satu. 
2. Menilai bahwa kekufuran hanya terjadi dengan juhud (ingkar) dan meyakini bahwa ibadah sholat menjadi penghalang takfir(pengkafiran). 

Hasilnya : Orang sekuler, menolak syariat islam dengan lisan kekuatan dan ancaman, dianggap sebagai ulil amri syar'i seperti kholifah; wajib dibaiat dan ditaati secara mutlak (walau diambil harta dan dipukul punggungnya).

Oleh : Ustadz Abu Musa Isa Islami Al-Mizzy 
Tanggal : 25 Desember 2022
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=5835283853161403&id=100000395379891&mibextid=Nif5oz

Kumpulan tulisan Ustadz Jafar Shalih • 8

Miris melihat ulah seorang Doktor lulusan Jamiah Islamiyah Madinah yg hanya mengutip dan males mentahqiq. Kemudian disamping itu sembarangan menuduh lawan diskusinya hanya copas. Intinya cuma bisa ngeles macam Pak de.

Oleh : Ustadz Jafar Shalih 
Tanggal : 12 April 2020
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0btQWhg7RxqeEvjePrrt3WatZdXeygkELgidaJCjKDaXbiBofR6xGqyw7a4rXsDwEl&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz

Kumpulan tulisan Ustadz Jafar Shalih • 7

Ada dua orang yg satu qunut subuh, yg kedua gak qunut. Tapi keduanya sama-sama menganggap pelaku syirik akbar masih muslim karena jahil. Siapa yg selamat? Gak ada yg selamat.

Oleh : Ustadz Jafar Shalih 
Tanggal : 21 Februari 2020
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid037Bphcw193vbza5aSXPT4yjjgKZTXw7ZfFHLoZwTfMb652bHnTytzYuV6VLZc7VUAl&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz

Kumpulan tulisan Ustadz Jafar Shalih • 6

Kaidahnya Murji'ah kalau terpojok: "Jangan asal comot" "Jangan modal copas"

Jadi kalau dia gak copas, tapi kalau orang lain copas. Kalau dia gak asal nyomot, tapi kalau org lain asal nyomot.

Oleh : Ustadz Jafar Shalih 
Tanggal : 20 April 2020
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02QZwdkyrtG53Y85AdfEPebxVxQiLQwRgWTsY5XdAjoFgpbDhztMhCaCybReWLwfzfl&id=100010660082711&mibextid=Nif5oz

Kisah

Kisah #1:
Dahulu, ada seorang pemuda yg tinggal di sebuah tempat.
Suatu hari dia sendirian pergi ke sebuah tempat ibadah orang2 di tempat tersebut kemudian menghancurkan objek2 sesembahan yang ada disitu.

Sangat2 "tidak hikmah" dan merusak tatanan masyarakat setempat. Masyarakat setempat pun tersinggung setengah mati. Pemuda ini disidang ramai2 dan diputuskan untuk dibakar hidup2.

Dia harus menerima hukuman. Sayangnya ketika dibakar, ternyata api tak membakar dirinya.

Tapi karena masyarakat sudah kadung kesal, dia pun diusir dan harus pergi meninggalkan tempat itu.

Karena sikap yang "tidak hikmah", hilanglah kesempatan dia untuk berdakwah lebih lama disitu. Sangat besar "mudharat" yang ditimbulkan. 

Kisah #2:
Ada juga seseorang yang siang dan malam mengingkari dengan lisan peribadahan2 kepada selain Allaah di sebuah kota.
Karena hal ini, beliau disiksa, dihardik...
Dan akhirnya setelah 13 tahun menjalani hal ini, terusir juga dirinya dari kota kelahirannya tersebut.

Begitulah "mudharat" yang timbul. Seandainya bisa lebih memaklumi, tentu beliau akan tinggal dan bisa berdakwah lebih lama.

Kisah #3:
Ada juga seorang yang menghancurkan kuburan2 yang diibadahi di negeri hijaz.
Ketika melakukan hal tersebut, dia pun di protes oleh seluruh pemuka agama. Ulama Bashrah tidak setuju. Ulama dari negeri2 lain tidak setuju. 

Masuklah dia sebagai daftar orang yang dicari hidup atau mati.
Sayembara berhadiah pun muncul bagi siapa saja yang bisa membunuhnya.

Dia pun harus terusir dari kota tempat dia tinggal saat itu.

Halaah... seandainya bisa lebih "hikmah", tentu "mudharat"nya tidak akan besar dampaknya. Dan dia bisa berdakwah di masyarakat dengan lebih tenang.

Itulah 3 kisah contoh bagaimana bersikap dalam kesyirikan.
Walaupun ada yang bilang "tidak hikmah" dan secara fakta menimbulkan "mudharat" baik dari segi harta dan nyawa.

Antum semua tahu tokoh dalam kisah #1 dan #2.
Adapun kisah #3, beliau dikenal dengan karya tulisnya Tsalatsatul Ushul dan Kitab at-Tauhid.

Allahumma shalli ala Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa man tabi'ahum bi ihsan ilaa yaumiddin.

https://t.me/ngajitauhidofficial/395

Asy-Syaikh Al-'Utsaimin : Anda wajib berada di atas manhaj salaf ! Bukan berada di atas hizby yang namanya salafiyyin !


Asy-Syaikh Al-'Utsaimin : Anda wajib berada di atas manhaj salaf ! Bukan berada di atas hizby yang namanya salafiyyin !

Oleh : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Hanifah Jandriadi Yasin
Tanggal : 1 Mei 2023
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1727276557726315&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz

Ustadz Abu Mas'ud Lamongan

Ustadz Abu Mas'ud Lamongan :

"Ketuhanan Yang Maha Esa" bukanlah Makna Tauhid dalam Islam :
https://youtu.be/dLAtaDU3hrE

Al-Koumiyyah/Nasionalisme dan Bhineka Tunggal Ika =
https://youtu.be/Ifc3kZVLl78

Al-Koumiyyah/Nasionalisme dan Negara Kafir =
https://youtu.be/x0eC92B-dC0

Khutbah Idhul Adha , Amanah Yang di tinggalkan Umat Islam •
🔈Faidah Khutbah :
🔊 ke Kufur an demokrasi dan wajib atas koum muslimin untuk menjauhinya 
🔊 Pentingnya ber takwa kepada الله 
=
https://youtu.be/50JbsMdIJoU

Ustadz Abu Mas'ud Su'udi


Ustadz Abu Mas'ud Su'udi :

"Ketuhanan Yang Maha Esa" bukanlah Makna Tauhid dalam Islam :
https://youtu.be/dLAtaDU3hrE

Al-Koumiyyah/Nasionalisme dan Bhineka Tunggal Ika =
https://youtu.be/Ifc3kZVLl78

Al-Koumiyyah/Nasionalisme dan Negara Kafir =
https://youtu.be/x0eC92B-dC0

Khutbah Idhul Adha , Amanah Yang di tinggalkan Umat Islam •
🔈Faidah Khutbah :
🔊 ke Kufur an demokrasi dan wajib atas koum muslimin untuk menjauhinya 
🔊 Pentingnya ber takwa kepada الله 
=
https://youtu.be/50JbsMdIJoU

Hati-hati dari 3 penyakit yang kerap hinggap pada para santri/thalib

Hati-hati dari 3 penyakit yang kerap hinggap pada para santri/thalib:

1. Merasa puas dengan satu bidang keilmuan

Sehingga dia enggan untuk mempelajari bidang-bidang lain. Dan ini merupakan tanda kelemahan atas dirinya.

2. Mengecilkan ilmu-ilmu yang tidak dia kuasai

Seperti santri yang dimudahkan dalam penguasaan dalam Bahasa Arab, maka dia mengecilkan ilmu 'aqidah. Atau ketika dimudahkan dalam fikih, kemudian dia mengecilkan bidang hadits.

3. Menyibukan diri dengan ilmu yang bukan prioritas

Sehingga dia tidak mempelajari justru yang harusnya menjadi prioritasnya. Dan ini yang paling banyak terjadi pada hari belakangan ini. Seperti santri yang sibuk dalam hadits, sampai mengetahui keadaan para rawi, mengetahui apa beda "Bundar" dengan "Ghundar", beda Sufyan ibnu 'Uyainah dengan Sufyan ats-Tsaury, bahkan sampai bacaannya itu Fathul Bari, akan tetapi tidak pernah khatam matan fikih. Tidak mutqin dalam fikih wudhu dan shalat dengan prasangka bahwa "ahli hadits itu langsung merujuk ke hadits, tanpa perlu mempelajari matan-matan fikih".

Atau dia bahkan tidak mutqin dalam perkara aqidah, atau bahkan tidak mutqin dalam Tsalatsatul Ushul padahal inilah pertanyaan yang akan ditanyakan di alam kubur.

Dia lebih menyukai ilmu yang "canggih"/"tinggi" dibandingkan ilmu yang memang dirinya dan kaum muslimin membutuhkan pengajaran tentang hal tersebut.

Faidah dari:
https://www.youtube.com/watch?v=QY2OAacKeNo

https://t.me/ngajitauhidofficial/474

Senin, 26 Juni 2023

Bukan Ahlus Sunnah

S : Apakah tepat jika dikatakan bahwa asy'ariyah dan maturidiyah termasuk ahlus sunnah dalam hal hal yang mereka mencocoki Ahlus sunnah ?
J : Katakan saja, mereka mencocoki Ahlus sunnah dalam hal demikian dan demikian. Jangan katakan, mereka termasuk bagian dari Ahlus sunnah dalam hal yang mereka memcocoki Ahlus sunnah. Karena tidak ada satupun sekte dari 72 sekte dalam Islam melainkan memiliki kecocokan dengan Ahlus sunnah dalam sebagian materi Aqidah, toh demikian ke 72 sekte itu bukan bagian dari Ahlus sunnah, tetapi mereka ahlul bid'ah, sekte sesat.

Oleh : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Unaisah Jabir حفظه الله 
Tanggal : 7 Februari 2023
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1465537723979067&id=100015685594811&mibextid=Nif5oz

Minggu, 25 Juni 2023

Surah An-Nahl [16] ayah 36

Surah An-Nahl [16] ayah 36 : 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ ٱلضَّلَٰلَةُۚ فَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ 

Hindi - Azizul-Haqq Al-Umary

और हमने प्रत्येक समुदाय में एक रसूल भेजा कि अल्लाह की इबादत (वंदना) करो और ताग़ूत (असुर- अल्लाह के सिवा पूज्यों) से बचो, तो उनमें से कुछ को, अल्लाह ने सुपथ दिखा दिया और कुछ पर कुपथ सिध्द हो गया। तो धरती में चलो-फिरो, फिर देखो कि झुठलाने वालों का अन्त कैसा रहा?

Indonesian - Bahasa

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Thagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Japanese - Ryoichi Mita

36.本当にわれは,各々の民に一人の使徒を遺わして「アッラーに仕え,邪神を避けなさい。」 と(命じた)。それでかれらの中には,アッラーの導かれた者もあり,また,迷誤が避けられない者もあった。それで地上を旅して,(真理を)拒否した者の後がどんなものであったかを見るがいい。

Albanian - Hassan Efendi Nahi

Çdo populli Ne i çuam një të dërguar (që u thoshte): “Adhuroni Allahun dhe shmangni idhujt!” Disa prej tyre Allahu i shpuri në rrugë të drejtë e disa e merituan të mbeten në humbje. Andaj, udhëtoni nëpër botë të shihni se si ishte fundi i përgënjeshtruesve!

Korean - Hamid Choi

하나님이 각 민족에 선지자 를 보내어 하나님을 섬기되 우상 을 피하라 하였으니 그들 중 하나님께서 인도한자 있었으며 그들 가운데 방황하는 자도 있었으니 대지위를 여행하며 진리를 부정하는 이들의 말로가 어떠했는가를 보라

English - Sahih International

And We certainly sent into every nation a messenger, [saying], "Worship Allāh and avoid ṭāghūt." And among them were those whom Allāh guided, and among them were those upon whom error was [deservedly] decreed. So proceed [i.e., travel] through the earth and observe how was the end of the deniers.

Asy-Syaikh Al-'Utsaimin : Anda wajib berada di atas manhaj salaf ! Bukan berada di atas hizby yang namanya salafiyyin

Asy-Syaikh Al-'Utsaimin : Anda wajib berada di atas manhaj salaf ! Bukan berada di atas hizby yang namanya salafiyyin !

Oleh : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Hanifah Jandriadi Yasin
Tanggal : 1 Mei 2023
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1727276557726315&id=100013319622062&mibextid=Nif5oz

Mengenal Asal Usul Salafiyyin Tsabitin , Hubungan Salafiyyin Tsabitun dengan Salafi RII ,Mengenal Manhaj Salaf

🪶 Mengenal Asal Usul Salafiyyîn Tsâbitîn. 

🪶 Hubungan Salafiyyûn Tsâbitûn dengan Salafî RII. 

🪶 Mengenal Manhaj Salaf. 

Tanya jawab bersama:
Muhammad Al-Khidhir setelah kajian "Syarhul 'Aqîdah Al-Wâsithiyyah".

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7557

Kamis, 01 Juni 2023

Pembelaan Terhadap Mujahidin Dan Semua Ulama Serta Aktivis Dakwah Penegakan Syariat

Pembelaan Terhadap Mujahidin Dan Semua Ulama Serta Aktivis Dakwah Penegakan Syariat
Kenapa Harus Selalu Membahas Syirik Dustur(Undang-undang)?

Mungkin banyak ikhwah heran dengan sepak terjang beberapa ulama dan aktivis dkwah yg memfokuskan setiap ucapan dan tulisannya utk membahas syirik dustur. 
Bukan berarti kita menyepelekan syirik kubur, akan tetapi kita berbicara sesuai dengan realita yg ada. Kita menyesuaikan kesesatan yg marak dan hampir banyak org yg tidak memahaminya.

Inti dakwah para Nabi dan Rasul adalah mengajak kepada tauhid dan menjauhi toghut. Adapun toghut maka memiliki banyak bentuk, ada toghut yg disembah dengan sujud, dan berdoa, ada toghut dalam bentuk pemikiran atau manhaj yg diikuti, dan ada pula toghut hukum yg ditaati.

Syaikh Sulaiman bin Sahman berkata :

أن الطاغوت ثلاثة أنواع : طاغوت حكم و طاغوت عبادة، و طاغوت طاعة و متابعة.

“Sesungguhnya terdapat tiga macam toghut : Toghut hukum, Toghut ibadah, dan toghut ketaatan dan mutaaba'ah(yg diikuti dan ditaati)” -Lihat Risalah Fi Bayaan at-Tooghuut wa Wujuub Ijtinaabihi, karya Syaikh Sulaiman bin Sahman-

Para ulama dakwah ketika membahas kesyirikan tidak ada dari mereka yg menyepelekan salah satu bentuk sisi kesyirikan, justru mereka berusaha utk selalu membahas kesyirikan yg ada dan yg marak di waktunya. Dan di masa mereka kesyirikan yg marak adalah syirik kubur, adapun syirik dustur maka belum tersebar sebagaimana tersebarnya di zaman kita sekarang. Dan ini disebabkan karena di kala itu terdapat Daulah Utsmaniyah yg masih berundang-undang dengan syariat islam, begitu pula di semua wilayah-wilayah yg berada di bawah kekuasaannya, meskipun tidak maksimal.

Perlu diketahui juga, bahwa Syaikh Sulaiman bin Sahman menulis risalah khusus utk membahas toghut hukum. Karena beliau melihat di kala itu banyak suku atau kabilah-kabilah jaziroh arab yg berhukum dengan hukum-hukum adat mereka, berhukum dengan hukum undang-undang yg dibuat nenek moyang mereka. Undang-undang toghut mereka biasa dikenal dengan istilah Undang-undang ar-Rifaaqoh, Syariat 'Ujmaan, Syariat Qohtoon, as-Saluum dll.

Syaikh Sulaiman bin Sahman berkata di risalahnya :

والمقصود في هذه الورقة هو طاغوت الحكم، فإن كثيرا من الطوائف المنتسبين إلى الإسلام قد صاروا يتحاكمون إلى عادات آبائهم ويسمون ذلك الحق بشرع الرفاقة، كقولهم شرع عجمان، و شرع قحطان، وغير ذلك و هذا هو الطاغوت بعينه الذي أمر الله باجتنابه

“Adapun maksud dari tulisan saya di risalah ini adalah pembahasan toghut hukum, karena sekarang banyak kelompok-kelompok yg mengaku islam akan tetapi berhukum dengan UU adat istiadat nenek moyang mereka, yg biasa mereka sebut dengan istilah syariat ar-Rifaaqoh, dan misal lainnya biasa mereka sebut Syariat Ujmaan, Syariat Qohtoon, dll.. maka ini semua hakekatnya adalah toghut yg telah Allah perintahkan utk menjauhinya.”

Kesesatan syirik dustur ini tidak bisa disepelekan, bahkan di zaman ini harus diberikan perhatian khusus karena kuatnya syubhat yg dilontarkan para pengacara da pembelanya.

Adapun syirik dustur hakekatnya adalah salah satu bentuk dari penyimpangan di dalam tauhid hakimiyah -ini bagi yg menerimanya- atau bagi yg tidak terima maka masuk ke dalam penyimpangan tauhid rububiyah. Sebagaimana ucapan Syaikh Utsaimin bahwa syirik hukum masuk ke dalam bab syirik rububiyah.

Lantas pertanyaannya? lebih dahsyat mana antara syirik dalam masalah rububiyah ataukah uluhiyah?
Ahli kalam mempersempit masalah tauhid di dalam rububiyah, dan mereka tidak mengenal syirik melainkan hanya di dalam masalah rububiyah -ini konsekuensi faham tauhid mereka- sehingga menurut mereka jelas syirik rububiyahlah yg paling berbahaya.
Menurut aimmah dakwah pun penyimpangan di dalam bab tauhid rububiyah lebih dahsyat dibandingkan syirik di bab uluhiyah.

Bahkan syirik hukum memborong tiga kesyirikan, sebagaimana penjelasan Syaikh Sulaiman al-Ulwan :

1. Syirik rububiyah.
Karena yg memiliki hak menetapkan hukum hanya Allah, dan hak ini masuk ke dalam rububiyah Allah.

2. Syirik Uluhiyah.
Kita diperintahkan utk taat kepada Allah dan diperintahkan utk berhukum dengan hukum Allah, dan ketaatan adalah bentuk dari salah satu ibadah sebagaimana kisah sahabat 'Adiy bin Hatim ketika mendengar firman Allah :

اتخذوا أحبارهم و رهبانهم أربابا من دون الله

(At-Tawbah):31 - Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah

Dengan spontan 'Ady bin Hatim mengatakan : “Kita tidak menyembah mereka...” lalu Rasulullah saw menjawab : Bukankah jika mereka mengharamkan apa yg Allah halalkan maka kalian mentaatinya dan ikutan mengharamkannya, juga sebaliknya jika menghalalkan apa yg Allah haramkan kalian taati dan ikut menghalalkannya?? maka 'Ady menjawab : “benar wahai Rasulullah saw” maka Rasul saw berkata : “Maka itulah bentuk ibadah mereka”

3. Syirik Asma' wa shifaat.
Salah satu nama Allah adalah al-Hakam yg bermakna Dzat yg maha kuasa dalam hukum, dan semua permasalahan penyelesaiannya dikembalikan kepada Allah. Sehingga jika terdapat org menyatakan kewenangan hukum di tangan org tertentu, atau di tangan rakyat atau di tangan raja, atau di tangan presiden maka dia telah merebut dan menandingi nama Allah al-Hakam dan ini bentuk kasyirikan di dalam bab asma' wa shifat.

Adapun dakwah Nabi dan Rasul dimulai dengan dakwah tauhid uluhiyah, atau memperingatkan dari syirik kubur ini karena penyimpangan yg sangat-sangat jelas dan menantang adalah dalam masalah syirik kubur yaitu mereka menyembah berhala.

Dan tidak ada dari kalangan Sahabat ketika mendakwahkan atau dari kalangan musyrik kuffar quroisy ketika diajak utk mentauhidkan Allah dan meninggalkan berhala, mereka memahami bahwa maksudnya adalah cukup tidak nyembah berhala akan tetapi adapun hukum tetap bebas di tangan kita. Hal ini dikarenakan mereka paham makna Laa ilaaha illa Allah adalah murni ikhlas tunduk terhadap Allah dalam peribadatan, ketaatan, dan juga aturan hukum. 

Pembagian tauhid belum pernah muncul di zaman Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, tidak pula di zaman nabi-nabi sebelumnya. Akan tetapi pembagian ini muncul demi memudahkan kita utk memahami hakekat tauhid yg hampir digilas dengan maraknya kesyirikan.
Sehingga ketika Quroisy mendengar Laa ilaaha illa Allah mereka spontan paham maksudnya adalah tidak ada ilah yg berhak diibadahi dengan apapun bentuk ibadah; sujud, doa, istighotsah, meminta rizki, berharap, dan juga taat terhadap undang-undang Allah dst.

Lantas apa yg diprioritaskan ketika kita berdakwah? berdakwah itu tergantung audiens. Jika mereka memiliki penyimpangan di bab riba maka anda harus menekankan masalah riba, jika mereka para audiens menyimpang di bab tabarruj maka anda harus menjelaskan masalah itu, jika mereka menyimpang di bab syirik kubur maka anda mulai dengan tauhid dan syirik, jika mereka menyimpang di dalam bab syirik hukum dan ketaatan maka anda harus menjelaskannya.
Hal ini jika ditimbang dari sisi judul materi yg harus disampaikan, bahkan para ulama pun menasehatkan demikian ketika seorang khotib ingin khutbah, maka sangat dianjurkan agar judul khotbah sesuai problem umat yg marak di daerah tersebut.

Jika kalian melihat ke realita, maka kalian tidak akan dapatkan seorang ulama atau da'i yg terjun dakwah di masyarakat awam lalu memulai dengan syirik dustur, atau menyatakan bahwa UU adalah toghut, barang siapa berhukum dengannya maka dia musyrik kafir.., bahkan mereka yg kalian tuduh dengan sebutan “teroris” atau khowarij tidak ada yg memulai dakwahnya dengan masalah syirik dustur. Akan tetapi mereka memulai dengan mengingatkan wajibnya berhukum dengan hukum Allah, wajibnya kembali kepada alquran dan sunah dalam menyelesaikan setiap kasus permasalahan, atau mereka menjelaskan bahayanya meninggalkan hukum Allah, atau mereka menjelaskan rusaknya demokrasi dst. Bukankah ini dakwah yg dimulai oleh para Nabi dan Rasul??

Semua aktivis dakwah paham sisi mana yg lebih didahulukan ketika berdakwah, kalimat-kalimat mana yg lebih dulu diucapkan ketika dakwah, dan ini semua ditinjau dari siapa audiensnya. Kalau anda berhadapan dengan orang dewan atau kaum pembuat hukum legislatif apakah anda dakwahi dengan syirik kubur?? padahal kebanyakan mereka tidak ada yg nyembah kuburan..

Kalau kalian dihadapkan dengan mereka elit yg berkuasa di wilayah kita apakah kalian mulai dengan syirik kubur?
لكل مقام مقال
“Setiap lokasi dan keadaan, terdapat ucapan atau kalimat yg sesuai untuknya”

Itulah kaedahnya dalam berdakwah, mau lewat tulisan ataupun langsung terjun ke lapangan.

Dan mereka para ulama yg mendakwahkan tauhid rububiyah, terkhusus bab hukum dan ketaatan tidak ada dari mereka yg menyepelekan bab syirik kubur -kecuali sedikit mereka yg tidak paham-

Adapun dalil kisah Nabi Musa dan Harun mendakwahi Fir'aun dengan kalimat dan lemah lembut itu terdapat hikmah yg diantaranya bahwa dakwah dengan lemah lembut lebih diterima di hati. Akan tetapi apakah selamanya lemah lembut? atau apakah ayat tersebut bermakna wajib lemah lembut ketika berdakwah dengan toghut?

Justru kita diperintahkan mengikuti millah Ibrohim

{ قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ } 
الممتحنة[ 4 ]

(Al-Mumtaĥanah):4 - Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali".

Kita mengikuti millah Nabi Musa dalam menyikapi ahli kufur dan syirik ataukah mengikuti millah Nabi Ibrohim?

Bagaimana dengan firman Allah ini :

{ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ } 
التوبة[ 73 ]

(At-Tawbah):73 - Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.

Justru yg ada para sahabat memiliki sikap khusus terhadap mukminin dan orang-orang kafir...

{ مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا } 
الفتح[ 29 ]

(Al-Fatĥ):29 - Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Sikap keras terhadap orang-orang kafir telah dibuktikan oleh para sahabat dalam menyikapi petinggi-petinggi kuffar quroisy bahkan mereka rela utk membunuh ayahnya sendiri demi kecintaanya terdapa Allah dan agamanya.

Jadi sikap lemah lembut tidaklah selamanya, melainkan terdapat waktu dan keadaan tertentu. Jika anda melihat bahwa dia akan luluh hanya dengan kata-kata lembut maka lebih baik dengan kata-kata lembut, dan sebaliknya jika kalimat lembut tidak berfaidah bahkan tambah melawan, membantah dan ngeyel.. maka kalimat-kalimat keras lebih dianjurkan, dan ini sikap Nabi dan Rasul, begitu pula para sahabat dalam menyikapi kekufuran.

Bahkan salah satu tafsir makna قولا لينا “kalimat yg lembut” adalah kalimat tauhid Laa ilaaha Illa Allah, dan inilah yg kita dakwahkan kepada mereka para penguasa toghut yg berhukum dengan UUD buatan manusia.. 

Saya heran dan merasa aneh.. yg anda maksud dengan kalimat lembut itu seperti apa? Bagaimana menyampaikan dakwah tauhid kepada toghut dengan kalimat lembut? bisakah anda datangkan contoh kalimat lembut tersebut!

Adapun ayat ادع إلى سبيل ربك بالحكمة ... maka sungguh sayang jika dimaknai harus dengan lemah lembut terus menerus.. 
Makna (mau'idzoh hasanah) di dalam ayat tersebut adalah berdakwah dengan kalimat-kalimat الزواجر, yg maknanya kalimat-kalimat keras yg membuat org takut.

Sedangkan kalimat و جادلهم باللتي هي أحسن maka maknanya adalah debatlah mereka dengan cara baik bagi mereka yg menerima perdebatan dengan baik dan sehat. Adapun mereka yg dzolim, yg tidak bisa didebat dengan cara baik-baik maka Allah perintahkan dengam sebaliknya yaitu didebat dengan cara keras!

{ وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ } 
العنكبوت[ 46 ]

(Al-`Ankabūt):46 - Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri".

Lihat kata Allah “Kecuali dengan orang-orang dzolim di antara mereka!” 
apakah selalu dan selamanya lemah lembut dengan toghut!

Adapun nukilan ucapan Syaikhul islam Ibnu Taimiyah yg menyatakan bahwa sifat khowarij adalah menamai Daarr(Wilayah) mereka dengan sebutan Daar hijroh sedangkan mayoritas wilayah muslimin sebagai Daar kufr wa harb(negeri kafir dan perang) maka sungguh sangat disayangkan jika ucapan ini diarahkan kepada mujahidin.. Anda harus paham, khowarij menyatakan demikian karena mereka mengkafirkan umat islam disebabkan maksiat/dosa besar.. dan bukan berdasarkan pembatal keislaman. Adapun zona atau wilayah yg ada skrng(indonesia) saya yakin bahwa anda menyatakan negeri ini bukanlah dar islam, minimal anda menyatakan daar murokkab.

Pembahasan Syirik dustur bukanlah hal sepele, bahkan ulama-ulama kibar banyak sekali yang membahas dan menulis kitab khusus utk menjelaskan hakekat syirik dustur dan bahayanya diantaranya :
1. Syaikh Ahmad Syakir di dalam kitabnya Umdah at-Tafsir, bahkan beliau menyebutkan bahwa masalah ini termasuk ushul akidah
2. Kitab Haula Tathbiq asy-Syarii'ah Syaikh Muhammad Qutb
3. Kitab Tahkim asy-Syarii'ah wa Da'aawa al-'Ilmaaniyah Dr.Solaah ash-Shoowiy
4. Kitab Al-Haddu al-Faashil Syaikh Abdurrohman AbdulKholiq
5. Kitab asy-Syarii'ah al-Islamiyah laa al-Qowaanin al-Wadh'iyyah Syaikh Umar al-'Asyqor
6. Kitab Tahdziir Ahli al-Imaan 'An al-Hukm Bi Ghoiri Maa Anzala ar-Rohman Syaikh al-As'ardiy, dan ditahkik Syaikh Salim al-Hilaaliy
7. Kitab al-Fawaakih al-Idzaab fi ar-Rodd Man lam Yahkum as-Sunnah wa al-Kitaab Syaikh Hamd bin Ma'mar
8. Kitab al-Burhan wa ad-Dalil ala kufri Man Hakama bi Ghoiri at-Tanzil, Syaikh Ahmad bin Nashir Ghunaim
9. Kitab Wujuub Tahkim asy-Syarii'ah al-Islamiyah Syaikh Mannaa' al-Qotthoon
10. Kitab Wujuub Tathbiiq asy-Syarii'ah, Dr.Muhammad al-Amin asy-Syinqiithiy
11. Kitab at-Talaazum Baina al-Akidah wa asy-Syarii'ah, Dr.Nashir al-Aql
Dll.. sangatlah banyak.

Adapun mempersempit kejayaan islam hanya dengan dakwah menjelaskan syirik kubur akan tetapi menyepelekan syirik dustur maka ini manhaj yg tidak ada salafnya sama sekali.
Sejak kapan beribadah kepada Allah, mentauhidkan Allah tapi tidak tunduk dengan aturan Allah?? bahkan berhukum(tahaakum) dengan hukum Allah adalah konsekuensi kalimat tauhid Laa ilaaha Illa Allah.

نسأل الله أن يثبت قلوبنا و أن يميتنا على الإيمان

(Akhukum fillah Abu Mazen al-Ulwan)

Oleh : Al-Ustadz Al-Fadhil Abu Musa Isa Islami Al-Mizzy
Tanggal : 24 Juli 2020
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3239994199357061&id=100000395379891&mibextid=Nif5oz

Ta'asshub

Benar sekali pernyataan ustadz-ustadz ketika itu, bahwa mereka yang hari ini mengkampenyekan taqlid dua ustadz lokal yang senior, mereka jug...